“YUWO” SISTEM KEKERABATAN DAN HARGA DIRI BAGI ORANG MEE

Pesta yuwo adalah pesta adat dalam suku Mee yang dibuat oleh sebuah kampung untuk memberi makan kepada puluhan ribu orang dari seluruh kampung di Wissel Meren. Minimal 1 hari sebelum acara , semua warga dari berbagai kampung akan mulai berdatangan menuju lokasi pesta yuwo. Selain ubi dan sayur sayuran ada ribuan hewan korban babi (ekina) siap disembeli dimasing masing ‘kewita’. Siap dimakan dan siap dijual serta siap dibagikan untuk bekal.

Secara tradisi, YUWO adalah pesta terakhbar yang ada di wilayah suku Mee sejak nenek moyang dulu sampai kini, pesta yuwo masih dipertahankan karena bukan saja sebagai sarana untuk memberi makan tetapi juga ‘ Yuwo’ memiliki makna filosofis  sistem sosial (kekerabatan) orang Mee antara lain:

      • Pesta YUWO merupakan sarana membangun dan mengeratkan kekerabatan (gadi pitokai), berjumpa kembali secara bersamaan kerabat kerabat yang sudah lama berpisah dan terpencar berada di kejauhan balik gunung gunung. Anak anak yang beranjak dewasa mulai akan mengerti asal usul keluarganya dan belajar tentang bagaimana orang tuanya membangun sistem kekerabatan.
      • Pesta YUWO adalah momen transaksi mege (uang) yang memberi dampak perputaran ekonomi mikro, tempat jual beli bukan hanya Babi ( ekina) tetapi aneka barang antara lain pernak pernik dan kerajinan tangan yang hasil pendapannya dapat digunakan untuk  menyekolahkan anak, bangun rumah atau bayar utang piutang maupun  bayar emas kawin
      • Pesta YUWO juga sarana untuk mendapatkan jodoh dan satu satunya tempat pertemuan resmi adalah yuwo, disitulah muda mudi akan berjumpa, saling mengenal dan timbul perasaan saling suka dan memiliki hingga menuju ke jenjang pernikahan adat
      • Dan yang paling utama dalam sebuah Pesta YUWO adalah sebagai ajang untuk menunjukan pertanggungjawaban dan harga diri keluarga.

    Pesta ini memiliki beban moril yang amat berat bagi kampung tuan rumah pesta yuwo. Beban dan tanggung jawab yang dipikul untuk mampu memberi makan ribuan orang tetapi makanan juga bisa dibawa pulang ke kampung masing masing. Juga ada prinsip penting adalah mengutamakan dan memperhatikan kalangan ‘dobiyo bage’ atau kaum fakir miskin dan anak anak terlantar atau yatim piatu sebagai bagian dari kasih ‘ipadimi’. Beban moral lain adalah mampu untuk selenggarakan pesta dalam suasana aman dan damai agar semua berakhir dengan puas dan pulang dengan kesan indah. Semua kesan ini akan terbungkus dalam harga diri kampung yang menyelenggarakan pesta Yuwo di mata kampung lain.

    Tidak semua kampung mampu melaksanakan pesta yuwo karena mewajibkan persiapan yang matang  Sebelum satu kampung memutuskan adanya rencana sebuah pesta yuwo, ada pertanyaan refleksi yang mendasar;  apakah orang tua dan anak             ( pemuda pemudi) dari kampung itu mampu beternak ratusan  ekor babi ( ekina) selama dua hingga tiga tahun mendatang?, mungkinkah kampung itu bisa berkebun ubia ubianba seperti keadi, singkong (kasbi),  petatas (nota bugii) sampai ratusan hektar? sudahkah memperhitungkan tantangan alam baik musim kemarau dan musim hujan yang dapat menyebabkan  tanaman jadi  rusak oleh iklim?, kemudian apakah ekina dan ubi ubian itu pada waktu cukup tersedia utk ribuan orang yang datang di pesta yuwo? bagaimana dukungan moril dari kerabat kerabat terdekat yang ada di kampung lain?

    Inilah Refleksi refleksi yang dipikirkan sebagai tanggung jawab moral sebelum memutuskan sebuah pesta Yuwo. Bagi kampung yang merasa mampu, biasanya dua sampai tiga tahun sebelum pesta Yuwo dilakukan ditandai dengan pendirian rumah Emaa (rumah dansa laki laki) sebagai simbol akan ada pesta yuwo beberapa waktu mendatang atau istilahnya ‘onage motii’. Dan berita tentang ‘ onage motii’ ini akan segera tersiar ke seluruh penjuru negeri ( Keret dan kampung) dan segera saja tiap tiap keluarga (keret) akan melakukan persiapan sejak dini terutama kerabat terdekat dengan  kampung ‘onage motii’ itu untuk menyongsong pesta Yuwo mendatang.

    Pesta YUWO di Meuwo memiliki makna kehidupan yang dalam tetapi  kini mulai hilang dengan adanya keterlibatan elit elit birokrasi dalam pesta Yuwo untuk kepentingan politik praktis. Ternak yang dipestakan memiliki nilai sakral, harusnya dari usaha keringat sendiri bukan membeli dari orang luar. Namun dengan adanya oknum pejabat (elit) biasanya terlibat langsung sebagai pelaku pesta Yuwo sehingga Makna filosofinya bergeser. Pesta ‘yuwo’ sudah bukan lagi sebagai ajang kekerabatan tapi malah menjadi momen perpecahan keluarga yang puluhan tahun terjaga baik. Akhirnya pesta yang sejatinya sangat sakral itu tidak di akhiri dengan suka cita.
    Perlu kedepan untuk generasi MEE agar semua prosesi Sakral harus dikembalikan dalam aturan adat . Dewan adat Meepago dan lembaga lembaga terkait dan pemuda pemudi wajib untuk menata kembali berbagai pesta Adat yang memiliki nilai filosofi yang tinggi.

    (Napi)

    (Disadur dan diedit ulang dari tulisan Fb; Awikaituma, keniyapa 28 juli 2015, tanah kelahiran)

    Related Posts

    Pelatihan Perempuan Adat Wilayah III Doberay Jaga Tanah dan Manusia

    Woflenews – Yayasan Pusaka Bentala Rakyat (PUSAKA) sebagai lembaga yang menginisiasi kegiatan Pertemuan dan Konsolidasi Perempuan Adat dari beberapa wilayah, seperti Wasior, Tambrauw, dan Manokwari Raya untuk bercerita mengenai isu-isu…

    Pengukuhan Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *