Pelatihan Perempuan Adat Wilayah III Doberay Jaga Tanah dan Manusia

Woflenews – Yayasan Pusaka Bentala Rakyat (PUSAKA) sebagai lembaga yang menginisiasi kegiatan Pertemuan dan Konsolidasi Perempuan Adat dari beberapa wilayah, seperti Wasior, Tambrauw, dan Manokwari Raya untuk bercerita mengenai isu-isu apa yang mereka hadapi di wilayah masing-masing terutama yang berkaitan dengan isu Hutan, Tanah dan masyarakat adat tetapi juga mengenai pengalaman masing-masing terkait dengan pengetahuan atas tanah, hutan,serta pengalaman advokasi dalam menjaga Tanah Adat, Hal ini ditegaskan oleh Natalia Yewen sebagai fasilitator dari PUSAKA dalam mengawali Pelatihan.

Dalam Sambutan pembukaan Pelatihan, Samuel Awom selaku Kepala Pemerintah adat secara resmi membuka Pelatihan perempuan adat di kantor Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay, jalan Pahlawan sanggeng Manokwari.
“Kami dari Dewan adat wilayah III Doberay secara berkala mengurus masalah tanah, hutan dan manusia dan selalu mengingatkan semua pemilik Tanah adat untuk setia menjaga dan memelihara wilayah adat demi kepentingan masa depan anak dan cucu kita. Bicara adat tidak bisa ada intervensi dari pihak pihak lain baik pemerintah maupun agama, sebab adat sudah duluan semenjak Tuhan Allah menempatkan setiap manusia di dunia dengan wilayah adatnya masing masing. Generasi Papua hari ini lebih mengenal filsafat bangsa lain padahal moyang dan leluhur kita adalah ahli ahli filsafat yang selalu hidup dan mengenal fenomena alam. Ketika membaca kitab suci yang kita dapati bagaimana hubungan antara Manusia ( adat istiadat ) dengan Tuhan juga menyangkut cerita moyang dan leluhur dan batas wilayah adatnya. Banyak lembaga adat bentukan Penguasa sehingga mereka bekerja untuk kepentingan investasi dan imbasnya tanah di jual habis dan manusia tersingkir dari wilayah adatnya.
Perempuan Papua dalam adat dan budaya Papua memegang peranan sangat penting dan strategis dalam menjaga adat, sebab perempuan mengandung dan melahirkan Generasi penerus (laki dan perempuan) kemudian menyiapkan kecerdasaannya dari bayi hingga menjadi generasi yang tangguh untuk membangun Papua sehingga Nasar/ firman Izaak Samuel Kijne “Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”akan terjadi.
Samuel Awom juga mengutip khotbah Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Maatopai You “Pada hari pertama ditahbiskan menjadi Uskup Jayapura, meminta kepada seluruh umat Katolik maupun siapapun agar jangan pernah mau jual tanah. Tapi hiduplah dari hasil olahan tanah, harus hidup dengan oleh tanah seperti bertani berburu,berternak dan nelayan
Saat ini semakin jelas dan tragis orang asli Papua mulai tergeser dan kehilangan tempat mengayau seperti bertani, berburu juga tempat inisiasi sebagian besar sudah dikuasai oleh para investor kelas kakap yang sudah menjarah Tanah dan hutan Papua seperti Perkebunan kelapa Sawit , Berbagai macam pengolahan Kayu ,pengerukkan emas, gas, minyak serta lainya. (eksploitasi besar besaran sumber daya alam). Situasi ini yang menjadi kajian sehingga Dewan Adat Papua menolak berbagai Pemekaran daerah otonomi baru karena juga bertentangan dengan undang undang Otonomi Khusus (OTSUS) no. 21 Tahun 2001 sebelum dipaksakan menjadi Undang undang OTSUS no. 2 tahun 2021 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 78 tahun 2007 tentang Tata cara, pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan, di dalam pasal 6 ada beberapa syarat teknis dan indikator faktor faktor seperti kependudukan dan kemampuan fiskal, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah orang asli Papua baru dua jutaan tetapi dipaksakan menjadi 6 provinsi saat ini, yang menjadi pertanyaan manusia siapa yang mau menempati provinsi tersebut dan juga semua daerah yang mau dimekarkan tidak punya kemampuan fiskal maka aspirasi meminta pemekaran ini jelas kepentingan Pemilik modal kemauan sepihak Pemerintah Jakarta dan para elit birokrasi sehingga jelas tidak mewakili seluruh masyarakat adat Papua.
Dalam sambutan, Natalia Yewen membeberkan beberapa penelitian bahwa perempuan Papua dalam adat juga bisa memimpin dan membela tanah adatnya seperti di Kamoro dan beberapa wilayah adat lain. Perempuan Papua (mama-mama Papua) adalah manusia Pemberani melawan investasi ini saya temui di distrik kebar kabupaten Tambrauw dimana ada seorang mama melawan dengan memegang parang potong kantor perusahaan, potong alat berat, ini demi masa depan anak anak sebab dengan masuknya investasi maka alam ( hutan) akan rusak.

Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dari masing masing peserta dan mempersiapakan materi selanjutnya. Kegiatan akan berlangsung selama 3 hari (7 – 9 Februari) dengan harapan; perempuan adat Papua dapat memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masing-masing dari mereka, perempuan adat Papua saling belajar terkait dengan pengalaman advokasi dan aksi-aksi mereka sehingga saling menguatkan dalam perjuangan-perjuangan masing-masing, perempuan adat Papua akan terkonsolidasi dan saling mendukung untuk perjuangan di wilayah masing-masing. (an)

  • Related Posts

    Ruang Demokrasi Mati, Aksi Pendidikan Gratis Untuk Seluruh Rakyat Papua DiBungkam

    Port Numbay, woflenews.com – Aksi Nasional yang dilakukan oleh Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM WP) dilakukan secara serentak dibeberapa kota diantaranya, Jayapura, Manokwari, Sorong dan Timika dengan tuntutan; wujudkan…

    Inilah Pernyataan Sikap FIM WP Di Hari Pendidikan Nasional Indonesia

    Port Numbay, woflenes.com – Salah satu tujuan bernegara dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri bangsa dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” untuk merealisasikan tujuan tersebut, hak…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *