Universitas Papua Siap Jadi Pioner Produksi Makanan Khas di Papua

Manokwari, woflenews.com – Rektor Universitas Papua, Dr. Meky Sagrim, SP, M.Si mengatakan Universitas Papua (UNIPA) siap menjadi pioner pengembangan juga pembudidayaan makanan lokal (khas) Papua non beras sebab UNIPA memiliki alumni para sarjana pertanian,petenakan maupun perikanan. Khusus Makanan khas Papua seperti; petatas, kekadi, kasbi (ketela), pisang, buah merah, sagu, berbagai jenis sayuran segera akan dikembangkan dengan melibatkan para petani papua karena krisis pangan dunia saat ini menjadi ancaman seius sewaktu waktu. Sudah banyak data penelitian yang kemudian menjadi skipsi dan banyak tenaga ahli menjadi indikator utama dalam merealisasikan penerapan dalam pengembangan produksi makanan khas Papua tersebut. Masalah utama yang harus diselesaikan adalah membuat regulasi atau aturan pendukung dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Artinya dengan adanya regulasi maka hal tersebut menjadi syarat yang harus dilakukan dan menjadi tanggungjawab bersama untuk melakukan pembudidayaan dan memproduksi makanan khas Papua, tegas Rektor UNIPA.
Hal ini mendapat respon positif dari Herman Dowansiba seorang petani asal Manokwari bahwa memang benar masalah utama yang dihadapi petani lokal di Manokwari adalah bagaimana mengembangkan hasil pertanian kebun lokal yang selama ini hasilnya masih sedikit untuk menjadi bahan makanan utama. Maka untuk itu perlu dukungan serius dari pihak pemerintah agar kita petani tidak lagi bertani untuk kebutuhan keluarga saja namun juga produksi dengan volume yang besar. Saya akan berterimkasih pada Universitas Papua yang sudah mulai memikirkan konsep untuk menyuplai bibit serta bersedia mempersiapakan tenaga ahli pertanian khusus pengembangan juga pembudidayaan.

Merespon pemikiran dari Rektor UNIPA, Kepala Pemerintahan Adat Wilayah III Doberai, Samuel Awom menegaskan kebutuhan makanan khas papua seharusnya sudah dikembangkan sejak kampus UNIPA didirikan, karena makanan khas Papua sudah ada sejak moyang leluhur Papua ada di tanah ini. Menjadi makanan khusus dan spesial yang dikonsumsi setiap hari harus menjadi kebiasaan hidup saat ini karena sudah banyak penelitian menyangkut kandungan karbohidrat (gizi, vitamin ) yang sangat banyak pada makanan khas papua tersebut yang dampaknya sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan generasi Papua. Dampak positif berikut adalah masyarakat adat Papua akan semakin banyak menjadi manusia yang produktif karena bisa mengelolah alam (Tanahnya) untuk kepentingan kemandirian ekonomi tanpa harus tergantung dari pemerintah dengan mengharapkan bantuan bantuan sosial, juga tanah adatnya tidak akan dijual secara bebas, karena tanah tersebut akan diolah untuk kepentingan pertanian, peternakan maupun perikanan.

Kekurangan/kelangkaan makan khas Papua saat ini merupakan kegagalan pemerintah maupun berbagai alumnus kampus (akademisi) di Tanah Papua dalam merumuskan strategi melipatgandakan produksi makanan khas tersebut. Kenapa harga keladi, petatas, kasbi, pisang, sagu dan lain lain menjadi mahal? ini karena hasil produksi pertanian maupun peternakan, perikanan yang tidak maksimal. Kalau semakin banyak hasil produksi maka sudah pasti harga lebih murah, itu sudah prinsip dari ilmu ekonomi. Saat ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi beras karena harganya lebih murah sudah pasti karena produksi beras sangat banyak dibandingkan dengan makanan lokal tersebut. Untuk itu pandangan dari Rektor UNIPA harus direalisasikan dengan cepat tidak menjadi konsep yang masih diperdebatkan, minimal Rektor sudah menyiapkan tim khusus untuk merumuskan regulasi yang dimaksud agar mempermudah kerja kerja pemerintah sebagai eksekutor peraturan tersebut.

Kelemahan pemerintah sebagai eksekutif sulit membuat regulasi karena tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas para pembuat undang-undang. Mereka para anggota legislatif belum memiliki konsep dan gagasan yang strategis dalam menyusun konsep konsep pengembangan pangan khas menghadapi krisis pangan dunia saat ini. Hal ini menjadi hambatan utama dalam merumuskan strategi pengembangan produktivitas para petani, peternak hingga nelayan sebagai basis utama menjaga ketahanan pangan didaerah. Kertegantungan bahan pangan dari luar Tanah Papua sudah terjadi puluhan tahun, baik sayuran sayuran, telur, daging dan berbagai rempah rempah untuk bahan masakan yang paling dasar. Untuk itu menurut kepala Pemerintahan Adat Wilayah III Doberai, kegagalan fatal ini perlu dievaluasi secara menyeluruh kemudian mencari solusi dengan melibatkan semua pihak dalam mengatasi ketergantungan dan krisis pangan yang dihadapi saat ini. (AN)

AN

  • Related Posts

    Ruang Demokrasi Mati, Aksi Pendidikan Gratis Untuk Seluruh Rakyat Papua DiBungkam

    Port Numbay, woflenews.com – Aksi Nasional yang dilakukan oleh Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM WP) dilakukan secara serentak dibeberapa kota diantaranya, Jayapura, Manokwari, Sorong dan Timika dengan tuntutan; wujudkan…

    Inilah Pernyataan Sikap FIM WP Di Hari Pendidikan Nasional Indonesia

    Port Numbay, woflenes.com – Salah satu tujuan bernegara dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri bangsa dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” untuk merealisasikan tujuan tersebut, hak…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *